Novel Laris Autumn in Paris

Ilana Tan mengemas rentetan cerita itu dengan natural, seolah-olah hal-hal yang terjadi di dalam novelnya adalah kisah nyata yang ia ceritakan kembali dengan mudahnya. Unsur-unsur ketidaksengajaan dalam novel-lah yang membuat kisah Sandy dan Tae Woo terasa nyata. Dan ide-ide yang dituangkan, walau pun sebenarnya cukup klasik, namun dikemas dengan khas-nya Ilana Tan.

Dari pertemuan tak sengaja dengan Tae Woo, Sandy harus terjebak dalam kesepakatan dan mambantu Tae Woo menghindari gossip soal Tae Woo yang gay dnegan berpura-pura jadi pacarnya. Kepura-puraan inilah yang kemudian menumbuhkan kisah cinta di antara mereka. Liana Tan juga menggambarkan kisah cinta yang romantic dan sederhana, namun bisa melekat lama di benar penonton. Tak heran, jika sampai saat ini Novel Summer in Seoul masih bertengger di rak bestseller.

Autumn in Paris

Autumn in Paris Sajikan Kisah Patah Hati yang Mendalam

Kalau Summer in Seoul punya kisah cinta romantic sederhana antara Sandy dan Jung Tae Woo, maka lain ceritanya dengan Autumn in Paris. Autumn in Paris jadi satu-satunya novel Ilana Tan dalam triloginya yang punya ending catasthrope. Autumn in Paris mengmbil setting di Paris dan mengisahkan saudara sepupunya Sandy yang bernama Tara.

Sejak awal Autumn in Paris memag menggambarkan kisah cinta yang sedkit berbeda karena Tara yang menyukai teman dekatnya, Sebastian, sama sekali tidak punya kesempatan untuk menjalin hubungan degan laki-laki itu karena nyatanya Sebastian sendiri tidak menyukai Tara. Tanpa di duga, suatu hari Sebastian mengenalkan Tara pada laki-laki blasteran Jepan-…. Yang kemudian membuat Tara jatuh cinta karena kepribadiannya.

Namun tanpa sepengetahuan Tara, ternyata laki-laki yang ia sukai adalah saudaranya sendiri, hingga kisah cinta mereka tidak bisa berjalan semestinya. Ada banyak kejutan dalam kisah cinta Tara dan Lak-laki yang ia sukai. Ilana Tan juga sepertinya memang mencoba melukiskan kisah cinta yang jauh lebih rumit dan berat dibanding dalam novel Summer in Seoul.